QS. Al Baqarah : 28

Tafsir
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS. Al Baqarah : 28)
Ayat ini memberikan pelajaran kepada kita untuk intrusfeksi atau melihat kembali tentang asal-usul kita. Dari tiada kemudian kita diadakan, entah darimana asal kita dahulu. Mungkin di bayam atau sayur-sayuran, di ranting-ranting, atau di air yang mengalir, di serangga, dan lain sebagainya, kemudian dihidupkanlah kita. Terbentuknya mani dalam shulbi ayah dan taraib dalam tubuh ibu kita, yang berasal dari darah, dan darah itu berasal dari makanan, hormon, calori dan vitamin. Kemudian kita masuk dalam rahim ibu kita, dikandungnya dalam sekian bulan lalu diberi akal. Mengembara di permukaan bumi berusaha untuk mencukupi seluruh kebutuhan hidup. “Kemudian Allah mematikan kamu.” Dicabut nyawa kita untuk dipisahkan antara jasad dan ruh kita.

Kemudian badan kita akan diantarkan kembali kepada asal kita. Asalnya dari tanah akan dikembalikan ke tanah. Yang asalnya dari ranting akan dikembalikan ke ranting. Yang asalnya dari air akan dikembalikan ke air.
Lalu Allah menghidupkan kamu” Yaitu hidup untuk yang ke dua kalinya. Sebab nyawa yang terpisah tadi tidak kembali ke tanah, akan tetapi pulang ke tempat yang telah ditentukan buat menunggu panggilan Hari Kiamat. Itulah hidup yang ke dua kalinya.
Kehidupan yang ke dua akan lebih baik dan mulia, atau sebaliknya akan lebih sengsara dan hina. Dalam kehidupan yang ke dua akan ditentukan oleh bagaimana pengembaraan kita selama hidup di alam dunia. Apa yang sudah kita usahakan, kita cari dan kita raih? Sebab kita semua akan kembali kepada-Nya sesuai dengan ujung ayat 28, “Kemudian kepada-Nyalah kamu akan kembali.

Artinya, setelah kita semua dihidupkan-Nya kembali, kita akan dipanggil kembali kehadirat Allah SWT. untuk diperhitungkan baik-baik, dicocokkan dengan catatan yang telah di tulis oleh Malaikat terhadap seluruh amal dan perbuatan kita. Kemudian setelah itu ada keputusan dari Allah ke tempat mana kita akan digolongkan. Kepada golongan orang-orang yang bahagia atau kepada golongan orang-orang yang celaka. Disinilah keadilan yang sebenarnya akan berlaku dan tidak ada lagi kedzaliman. Karena sudah tidak ada lagi suap-menyuap, tidak  ada lagi makelar kasus, tipu muslihat dan lain sebagainya. Di sini tidak ada lagi belas kasihan dari siapapun, termasuk yang datangnya dari Allah. Jika mendapatkan celaka tidak lain adalah karena kesalahannya sendiri selama menempuh kehidupan di dunia. Begitu juga apabila mendapatkan kebahagiaan adalah karena bekal yang bisa dibawanya selama hidupnya di dunia.

Itulah Allah yang telah membuat tingkat kehidupan yang ditempuh oleh manusia. Dari situ akankah kita menjadi orang yang kufur kepada-Nya? Atau akankah kita berbuat sesuka hati
dalam kehidupan yang pertama ini? Bukankah kita tidak mungkin akan bisa membebaskan diri kita dari garis yang telah ditentukan Allah? Namun Allahpun tidak menyia-nyiakan kita, diantara kita ada yang diutus untuk menjadi Rasul, kemudian Allah menurunkan-Nya wahyu lewat Rasul itu, masih juga kita diberi petunjuk lewat agama sebagai pegangan hidup kita. Semenjak kita lahir dan bisa membuka mata, kita selalu dibimbing.
Patutkah kita yang telah diberikan rahmat, nikmat, dan hidayah oleh Allah seperti itu masih memungkiri dan mengkufuri? Mari pergunakan akal sehat kita untuk tafakkur, sudah patutkah perbuatan kita seperti ini!

Oleh: Khatam Susanto

Pentingnya Mempersiapkan Generasi Semenjak Dini

Anak adalah harapan orang tua, penerus cita-cita dalam keluarga. Cita-cita yang luhur dalam sebuah keluarga perlu pererncanaan semenjak dini.

Kita semua tentu masih ingat akan pesan orang tua kita dahulu, kalau akan mencari jodoh perlu kita tinjau tentang bobot, bibit, dan bebetnya atau nasab/keturunan/ luri (Jawa). Ini penting sekali karena ada pepatah Jawa yang mengatakan,”buah kelapa akan jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Ini artinya setiap anak adalah foto copi orang tuanya. Perilaku atau gaya dan sifat-sifatnya akan menyerupai orang tuanya. Bagimana perilaku orang tuanya bisa dilihat dari perilaku anak-anaknya. Dari sini maka memilah dan memilih calon pasangan hidup sangatlah penting. Janganlah kita terjebak oleh perilaku calon kita, yang kadang-kadang sok alim, santun, lemah - lembut dan sebagainya. Oleh karena itu mengetahui siapa dan dimana keluarganya itu penting sekali.

Jika anda sudah menemukannya siapa keluarganya dan dimana bertempat tinggal, maka tugas selanjutnya adalah mengolah cocok apa tidak. Jika sudah cocok sesuai dengan bobot, bibit, dan bebetnya. Maka bolehlah melangsungkan kejenjang selanjutnya, yaitu pernikahan. Karena pernikahan itu bertujuan melanggengkan generasi. Kalau dari pasangan ini berasal dari gen yang baik, maka gen/generasi yang dilahirkan nanti juga akan baik. Begitu juga sebaliknya jika pasangan ini gennya buruk (dari segi bobot, bibit, dan bebet ) tadi, maka gen/generasi yang akan lahir nanti juga akan buruk.
Nah jika dari pernikahan tadi sudah melahirkan generasi baru, maka tugas selanjutnya adalah memberikan pengajaran yang baik kepadanya. Baik agama maupun umumnya. Agama yang kuat, umum yang hebat adalah kunci kesuksesan masa depan.
Jika sudah memasuki usia sekolah masukkanlah ke sekolah yang memiliki basis keagamaan yang kuat dan tidak mengabaikan ilmu umumnya. Disamping nuansa pendidikan yang bertujuan global universal. Janganlah terpancang kepada sekolahan yang termurah, apalagi dengan embel-embel gratis. Apa jadinya anak-anak kita jika kita sekolahkan ke sekolahan yang gratis tetapi sangat membahayakan aqidahnya. Sekolahan gratis tetapi tidak bermutu sama sekali. Carilah sekolahan yang memiliki visi – misi yang bagus. Namun penyelenggaraannya juga bagus, sesuai dengan visi-misi tadi. Karena terkadang sekolahan hanya mengedepankan visi – misinya yang bagus tetapi penyelenggaraannya yang sesuai dengan visi-misi tidak ada.
Disamping itu kita juga harus mengetahui model dan materi kurikulum pembelajaran di sekolah yang akan kita titipi anak-anak kita. Janganlah dimasukkan kepada sekolahan yang tidak memiliki model pembelajaran yang bagus apalagi materi kurikulumnya yang tidak sesuai dengan standart kurikulum yang berlaku. 

Lihatlah kultur dan kualitas guru yang ada disana. Sudahkah sesuai dengan kriteria yang anda maksud. Sebab budaya dan kualitas guru sangat berpengaruh kepada anak didiknya. Apa yang disampaikan dan diperintahkan oleh guru akan dijalankan oleh murid-muridnya. Sangat berbahaya jika budaya guru yang tidak baik akan ditiru oleh anak didiknya. Atau budaya yang tidak baik diperintahkan oleh guru kepada murid-muridnya.
Masih ingatkah dengan peristiwa menyontek masal dalam rangka UNAS-2011 kemarin di SDN Gadel II – Surabaya? Itulah contoh budaya yang tidak baik. Janganlah memilih sekolah yang pendidiknya memiliki budaya yang tidak baik. Karakter yang baik dari guru akan sangat berpengaruh kepada murid-muridnya.

Selanjutnya yang perlu kita ketahui adalah fasilitas yang disediakan oleh sekolah tersebut bagaimana. Sudahkah sekolah tersebut memberikan fasilitas yang baik? Baik intra maupun ekstra kurikulernya. Fasilitas yang lengkap akan mempermudah siswa untuk mengakses setiap pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Sehingga sekolah bukan hanya teori saja, akan tetapi siswa bisa praktek secara langsung. Ini akan memperdalam pemahaman terhadap materi yang di sampaikan oleh pendidik/guru di sekolah tersebut.

Disamping itu yang perlu kita kaji adalah rasio jumlah murid dengan gurunya bagaimana. Berapa perbandingannya? Sebab jika dalam satu kelas jumlah muridnya lebih dari 30 siswa, sementara guru yang mengajar hanya 1. Maka ini kurang efektif. Minimal dalam satu kelas harus ada 2 guru. Walaupun sekolahan itu menerapkan sistem guru kelas. Apalagi yang bukan, seperti penerapan mikro teaching dan guru bidang study. Tidak boleh hanya satu guru di dalam kelas.

Yang bisa kita tengok lagi ketika kita hendak memasukkan anak kita ke suatu sekolah adalah prestasi yang nyata. Sudahkah sekolahan yang akan kita pilih memiliki beberapa prestasi yang gemilang? Misal, sekolahan itu pernah menjadi juara 1 lomba sain internasional.
Kalau beberapa kriteria diatas telah anda lakukan, insyaAllah putra-putri anda keluar dari sekolah tersebut sesuai dengan harapan anda.

Namun yang perlu dingat adalah keberhasilan generasi kita bukan hanya ditentukan oleh dimana anak kita sekolah. Akan tetapi keberhasilan itu ada tiga komponen pokok yang saling terkait. Yaitu rumah, sekolah, dan lingkungan atau masyarakat.

Jika keadaan rumah sudah mendukung, begitu juga dengan sekolahnya, maka selanjutnya pilihlah dan ciptakan lingkungan atau masyarakat yang mendukung pula. Sebab keberhasilan anak bukan hanya faktor keturunan dan pendidikan, akan tetapi interaksi dengan masyarakat atau lingkungan di sekitarnya sangatlah berpengaruh.
Selamat mencoba, semoga keberhasilan selalu menyertai keluarga kita. amin

Oleh : Supriadi (Ketua II)

Makna sebuah Senyum

Senyum memiliki sejuta makna, bisa positif /manis dan bisa negatif/pahit. Senyum yang kita berikan kepada orang lain menunjukkan gambaran yang ada dalam diri kita. Tiada harga atas senyuman tapi senyum sangat berharga bagi orang yang diberi senyuman. Memberikan senyum kepada seseorang tidak akan membuat kita tambah miskin, tetapi seseorang yang menerima senyum hatinya akan semakin kaya. Hanya memerlukan waktu sebentar untuk tersenyum, tapi ingatan akan senyuman yang kita berikan akan terkenang dalam waktu yang lama.
Jika seorang atasan memberikan senyum kepada bawahannya atas seleseinya suatu pekerjaan, ini menunjukkan senyum yang bermakna ungkapan terima kasih sekaligus pujian atas terseleseikannya sebuah pekerjaan yang telah diberikannya. Berbeda dengan senyumnya seorang atasan ketika melihat bawahannya belum bisa menyeleseikan tugasnya dari jadwal yang telah ditentukan.
Senyum pertama, bagi bawahan akan mengenangnya dengan perasaan senang. Karena telah berhasil menyeleseikan tugas yang telah diberikan oleh atasannya. Sementara senyum yang ke dua bagi bawahan akan mengenangnya dengan perasaan yang sedih, takut dan serba tidak menyenangkan. Karena tidak bisa menyeleseikan tugas yang diberikan oleh atasannya dengan baik. Walaupun tidak marah, namun bagi bawahan akan merasa tercambuk untuk segera menyeleseikan tugas yang dibebankan kepadanya dengan baik. Inilah yang dinamakan senyum motifasi. Yaitu senyumnya seorang atasan kepada bawahannya, dikala terjadi sesuatu yang kurang pas atau tidak sesuai dengan apa yang direncanakan oleh atasan.
Begitulah gambaran senyum seseorang kepada orang lain. Makna yang ada dalam senyum tergantung dari keadaan yang terjadi diantara pemberi dan penerima senyum.
Senyum bisa bermakna positif jika interaksi antara pemberi dan penerima senyum terjadi kesinambungan/singkrunisasi. Begitu juga sebaliknya senyum bisa bermakna negatif jika antara pemberi dan penerima senyum tidak terjadi singkrunisasi /berseberangan.
Begitu juga senyumnya seorang bayi misalnya, bayi bisa tersenyum ketika apa yang dilihatnya sesuai dengan apa yang diinginkannya. Apa yang dilihatnya menyenangkan baginya. Dia melihat sesuatu dengan tersenyum karena sesuatu itu menyenangkan bagi dirinya.


Ini artinya senyum bisa bermakna apa saja tergantung interaksi antara pemberi dan penerima senyum. Oleh karena itu tebarkan senyum kepada siapa saja baik atasan maupun bawahan anda. Karena dengan senyum anda jika anda sebagai atasan maka bawahan anda akan merasakan kesenangan, kenyamanan, walaupun bawahan anda memiliki kekurangan terhadap tugasnya. Dia akan termotifasi untuk memberikan yang terbaik dalam tugasnya. Begitu juga jika anda sebagai bawahan terbarkan selalu senyum kepada atasan anda, karena dengan senyum itu akan membuat suasana yang familiar, penuh dengan kekeluargaan. Orang yang akan marah tidak akan menjadi marah karena anda selalu tersenyum ketika bertemu dengan anda. Ini artinya senyum bisa digunakan untuk meredam marah seseorang.
Apalagi jika anda sebagai seorang pendidik, senyum yang selalu anda lontarkan akan merespon positif terhadap anak didik anda. Walaupun pelajaran yang anda bawakan adalah pelajaran yang menjadi momok buat anak didik anda misalnya. Anak didik anda akan merasakan senang dan enjoi terhadap pelajaran yang akan anda sampaikan. Meraka akan merasakan penyesalan jika waktunya pelajaran anda diantara mereka ada yang tidak masuk. Dia akan bertanya kepada temannya atau kepada anda sendiri secara langsung jika mereka ada yang tidak mengikuti pelajaran anda. Ini artinya senyum yang anda berikan memberikan daya tarik/magnet tersendiri. Sehingga orang lain yang anda beri senyum akan datang kepada anda. Ini baik sekali untuk diterapkan bagi siapa saja yang berprofesi sebagai pendidik. Anak didik tidak akan bosan apalagi bolos dengan pelajaran yang anda bawakan. Selamat mencoba semoga senyum yang anda berikan akan bermakna positif buat orang lain.

Oleh : Sidik Wijono

Kekuatan Senyum

Senyum memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Seorang ulama, Athif Abul ’Id pernah berkata, ”Tersenyumlah, karena senyuman Anda akan menutup pintu kesedihan dan keputusasaan, sekaligus menerangi lampu-lampu kelonggaran dalam kehidupan kita.”


Banyak yang belum menyadari betapa dahsyatnya kekuatan senyuman. Senyum telah memberikan gambaran jiwa seseorang. Ada orang yang senyum karena terpaksa ada pula senyum karena ketulusan jiwa. Ada yang senyum karena kemarahan dan ada senyum karena kebahagiaan. Ada senyum ejekan dan ada pula senyum kekaguman. Ada senyum kebencian dan ada pula senyum penuh kasih sayang. Senyum menjadi sarana komunikasi non verbal. Dari senyum ada gambaran raut muka yang bisa dibaca. Di balik senyum itu ada pesan masa depan, ada rasa optimis, ada cita-cita yang senantiasa menggelora.
Senyum adalah ungkapan perasaan seseorang. Orang yang sering tersenyum karena terpaksa, jiwanya selalu diliputi oleh ketidakjujuran dan kegundahan. Ada pertentangan antara batin dengan wajah yang ditampakkan. Senyum kemarahan, selalu menyimpan perasaan dendam. Senyum ejekan, sering diiringi dengan tertawa ejekan pula. Senyum kebencian, diringin dengan ungkapan kemarahan di dalam hati. Semua itu memiliki dampak negatif yang hanya akan melemahkan diri sendiri.
Sangat berbeda dengan senyum yang Jujur. Senyuman yang jujur keluar dari hati yang jujur. Hati yang jujur selalu berfikir memberi yang terbaik, apa itu untuk orang lain atau diri sendiri. Senyum yang jujur selalu berdampak positif terhadap diri sendiri dan juga orang lain.
Bagi diri sendiri senyuman mampu membentuk perilaku. Perilaku orang-orang yang memiliki akhlak mulia tampak dari senyuman yang jujur. Senyum kebahagiaan, senyum kekaguman, senyum kasih sayang, senyum ketulusan jiwa adalah senyum yang jujur. Orang yang berhati mulia akan tersenyum bahagia manakala dirinya atau orang lain berbahagia. Orang yang berhati mulia akan tersenyum dan mengakui kelebihan orang lain, mengagumi orang yang memiliki prestasi. Orang yang berhati mulia akan senantiasa memelihara senyum kasih sayang dengan penuh ketulusan kepada sesama. Itulah energi positif yang akan senantiasa memberikan kekuatan setiap manusia.
Untuk orang lain, senyum memiliki kekuatan yang dahsyat. Senyum bisa menghancurkan hati yang membatu. Senyum bisa mencairkan suasana yang beku. Senyum bisa mendekatkan hati yang sedang berjauhan. Senyum bisa membuka hati yang sedang terkunci. Senyum bisa menjadi jaring hati yang sedang menabur benci. Senyum juga bisa membuka peluang untuk menang. Dengan senyum orang bisa menaklukkan dunia.
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang pasti mempunyai rasa simpati kepada teman yang memiliki wajah berseri-seri. Wajah yang senantiasa menampakkan persahabatan. Wajah yang senantiasa memberikan inspirasi untuk selalu optimis. Wajah yang selalu memberikan harapan.
Ada sahabat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW itu seperti kita semua, kecuali bahwa beliau itu manusia yang mulia serta lembut tertawa dan tersenyumnya. Itu adalah gambaran senyum ketulusan, senyum kejujuran, senyum kemuliaan yang tidak memiliki tendensius. Tidak memiliki harapan dari orang lain, kecuali kemuliaan sejati.
Kini saatnya para remaja mulai membangun jaringan hati, jaringan simpati, jaringan naluri untuk membangun optimisme dalam diri. Jaringan yang bisa mempengaruhi diri dalam merancang masa depan. Jaringan yang mampu menguatkan hubungan antar sesama. Jaringan yang mampu membuang permusuhan dengan orang lain dan mampu menguatkan rasa percaya diri. Itu semua akan terpancar dari ekspresi senyum yang tulus suci.
Sungguh, kemuliaan sejati akan selalu muncul dari hati yang bersih. Hati yang senantiasa mendapat pancaran Ilahi. Hati yang senantiasa selamat dari jebakan godaan dunia yang tampak indah, tetapi sesungguhnya menyesatkan.
Senyum yang tulus bisa menjadi magnet bagi orang lain. Ekspresi wajah yang ramah senantiasa cerah dan menyenangkan. Mampu mewakili hati yang jujur, yang tulus, dan penuh persahabatan dengan siapapun. Setiap bertemu dengan orang lain bisa menjadi sahabat yang baik. Remaja seperti ini akan bisa menyambut siapapun dengan penuh kehangatan tanpa kebencian. Di sinilah berbagai peluang untuk mengubah dunia terbuka lebar dan menjadi kekuatan yang sangat dahsyat.

Tersenyumlah

Ada sebuah kata bijak yang perlu direnungkan bersama, “Salah satu kunci hidup bahagia adalah membiasakan diri untuk tersenyum. Sedangkan orang yang jarang tersenyum dan selalu cemberut sulit mengantar kebahagiaan.”
Ada satu simpulan penelitian yang dilakukan oleh para ahli di Harvard University. Sesungguhnya orang-orang yang pada masa usia anak-anak dan masa mudanya tidak bahagia, kebanyakan masa tuanya hidup menderita. Kebahagiaan di sini bukan karena harta yang melimpah dan semua serba berkecukupan. Kebahagian di sini adalah kemampuan seseorang untuk menerima keadaan dengan senyum ketulusan tanpa adanya tekanan.
Banyak dijumpai anak remaja yang panik dan penuh tekanan ketika ada ujian. Ketika datang masalah yang kecil dihadapinya dengan emosi. Bukan akal fikiran yang jalan, tetapi perasaan mudanya yang selalu mengelora. Seolah-olah ingin menunjukkan jati dirinya sebagai seorang remaja. Seolah-olah dalam dirinya tanpa ada kendali.
Banyak dijumpai perilaku remaja yang menyimpang dari nilai-nilai kebenaran. Biasanya dimulai dari penyikapan remaja terhadap mermasalahan yang datang. Saat ini tawur antar pelajar seolah-olah menjadi budaya. Bagitu juga disinyalir bahwa pengonsumsi narkoba juga dari kalangan remaja. Tapi banyak juga remaja yang memiliki komitmen untuk selalu menjaga diri dan berperilaku mulia.
Perilaku remaja yang terjadi saat ini tidak lepas dari cara penyikapan terhadap masalah. Mungkin saja sejak kecil belum dibiasakan, belum dilatih, dan belum diajari sehingga tidak tahu bagaimana menyikapi permasalahan yang dihadapi. Justru yang dikedepankan adalah jiwa mudanya yang selalu meledak-ledak. Jarang dilatih untuk berlapang dada dan senantiasa tersenyum dalam menyikapi mesalah.
Banyak yang tidak melihat apa yang ada dibalik senyum. Sesungguhnya senyum itu memiliki kekuatan yang dahsyat untuk mengantar orang menjadi bahagia. Senyum bisa membuka hati yang lagi bersedih. Senyum bisa mengobati seseorang yang lagi gunda gulana.
Rasulullah Muhammad saw adalah orang biasa seperti kita. Namun demikian, beliau memiliki daya magnet yang luar biasa. Beliau menjadi manusia yang paling berpengaruh di dunia ini hingga memiliki pengikut sampai akhir zaman. Sebenarnya apa yang menjagi rahasia beliau. Padahal dalam kehidupan beliau selalu dirundung ujian. Ketika dilahirkan tidak bertemu dengan ayah. Dalam usia enam tahun ibunya juga tiada. Bahkan di dalam perjuangan selalu ada godaan dari orang-orang yang memusuhinya.
Ternyata rahasia itu ada pada cara menyikapi semua masalah yang datang. Rasulullah Muhammad saw berusaha untuk selalu membahagiakan orang lain. Kebahagiaan yang tidak perlu mengeluarkan banyak biaya. Beliau senantiasa tersenyum kepada orang lain.
Jabir bin Abdillah pernah berkata, ”Rasulullah saw tidak pernah merintangi aku sejak aku masuk Islam dan beliau juga tidak pernah bertemu denganku, kecuali beliau pasti tersenyum di hadapanku.”
Betapa indah hidup ini bila setiap orang rela berbagi senyum. Orang yang tersenyum menjadi cermin pribadi yang tinggi. Dengan senyuman, bisa merawat cinta kasih. Bahkan bisa merajut kasih sayang yang tumbuh dalam diri pribadi yang mulia untuk berbagi dengan sesama.
Senyum adalah sedekah tanpa biaya, tetapi memiliki makna yang cukup mulia. Senyum yang dilakukan dengan tulus dan jujur untuk kebahagiaan orang lain akan melahirkan rasa senang, rasa tenang. Tentunya akan mampu membangun kebahagiaan pada diri sendiri. Ketenangan orang lain akan menumbuhkan persahabatan yang tulus. Saling menghargai, saling memahami, dan saling mencintai.
Membiasakan tersenyum pada orang lain berarti membiasakan bersedekah. Selain itu akan lebih banyak saudara. Keabadian dalam persaudaraan akan terbentuk jika mampu menyatukan hati. Tidak ada dusta di dalam kata, wajah, dan sukma. Semua menyatu dalam ketulusan
Ketika senyum telah menjadi budaya, hati gundah berubah menjadi suka. Hati yang tertekan akan menjadi lapang. Kesedihanpun akan berubah menjadi kebahagiaan. Bahkan senyum dikala duka simbul bagi orang-orang yang memiliki ketabahan. Begitu juga senyum kala dibenci memberi makna bagi pribadi yang memiliki harga diri. Tidak pernah sakit hati dan selalu memberikan maaf bagi orang lain yang sengaja menyakiti.
Sungguh mulia orang-orang yang senantiasa memelihara senyum ketulusan. Senyum adalah bahasa tubuh yang menyimpan berjuta makna. Walau tanpa kata dan kalimat, senyum ketulusan menyimpan persahabatan. Menyatunya hati bermula dari senyum. Ini semua yang akan menjagi kunci lahirnya kebahagiaan. Selamat tersenyum

Oleh: Drs. Najib Sulhan, MA